PEMBERIAN AMELIORAN PUPUK KANDANG AYAM PADA PENGGUNAAN LAHAN GAMBUT YANG BERBEDA TERHADAP EMISI CO2

Terry Ayu Adriany, Ali Pramono Pramono, Prihasto Setyanto

Abstract


Rendahnya produktivitas tanah gambut disebabkan oleh tingginya kandungan asam organik dan kemasaman tanah. Pemberian amelioran pupuk kandang ayam dapat meningkatkan produktivitas tanah gambut dan mempengaruhi dinamika emisi CO2. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang ayam pada tanah gambut yang berasal dari penggunaan lahan yang berbeda terhadap emisi CO2. Penelitian dilakukan ex situ di Laboratorium Gas Rumah Kaca di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. Metode yang digunakan eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, diulang 3 kali. Faktor pertama tanah gambut yang berasal dari penggunaan lahan yang berbeda yaitu tanaman karet semak (L1), karet dengan tanaman sela nanas (L2) dan semak belukar (L3). Faktor kedua dosis amelioran pupuk kandang ayam yaitu 0 t ha-1 (A1) sebagai kontrol dan 4 t ha-1 (A2). Variabel yang diamati adalah fluks CO2, sifat kimia tanah gambut dan kemasaman tanah. Hasil penelitian menunjukkan pemberian amelioran pupuk kandang ayam pada penggunan lahan gambut yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap emisi CO2. Penggunaan tanah gambut yang berasal dari penggunaan lahan karet dengan tanaman sela nanas tanpa pemberian amelioran pupuk kandang ayam memberikan pengaruh nyata dalam menurunkan emisi CO2 dengan rata-rata terendah yaitu 1803 kg ha-1th-1.

Keywords


tanah gambut; emisi CO2; bahan amelioran; pupuk kandang ayam

References


(1) Sri Ratmini NP. Karakteristik dan pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan pertanian. Jurnal Lahan Suboptimal. 2012 Oktober; 1(2): 197-206.

(2) Hooijer A, S Page, JG Canadell, M Silvius, J Kwadijk, H Wosten, and J Jauhiainen. 2010. Current and future CO2 emissions from drained peatlands in Southeast Asia. Biogeosciences. 2010 March; 7: 1505-1514.

(3) World Wide Fund for Nature (WWF). Deforestation, Forest Degradation, Biodiversity Loss and CO2 Emision in Riau, Sumatera, Indonesia: One Indonesian Propinve’s Forest and Peat Soil Carbon Loss Over a Quarter Century and It’s Plans for the Future. WWF Indonesia Tecnical Report. www.wwf.or.id; 2008.

(4) Langeveld CA, R Segers, BOM Dirks, A Van den Pol-van Dasselar, GL Velthof dan A Hensen. Emissions of CO2, CH4, and N2O from pasture on drained peat soils in the Netherlands. European Journal of Agronomy. 1997 September; 7: 35-47.

(5) Hooijer A, M Silvius, H Wosten and S Page. PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia, Delft Hydraulics report Q3943; 2006.

(6) Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Climate Change 2001. The Scientific basis. Contribution of Working Group 1 to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Houghton, J.T., Ding, Y., Griggs, D.J., Noguer, M., van der linden, P.J., Xiaosu, D. Cambridge: Cambridge University Press; 2001.

(7) Mauna Loa Observatory/NOAA. www.CO2Now.org. Atmospheric CO2. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2016.

(8) Barchia MF. Gambut. Agroekosistem dan Transformasi Karbon. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2006.

(9) Koesrini dan Eddy William, 2006. Pengaruh pemberian bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah (Capsicum annum L.) di lahan sulfat masam. Buletin Agronomi. 2006 Oktober; 34(3): 153-159.

(10) Firmansyah MA dan MS Mokhtar. Profil ICCTF di Kalimantan Tengah: Pengolahan Lahan Gambut Berkelanjutan. Kalimantan Tengah: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah; 2012.

(11) Setyanto P. Methane Emission and Its Mitigation in Rice Fields Under Different Management Practices in Central Java. Doctor of Philosophy. Malaysia: Universiti Putra Malaysia; 2004. P. 3.1-3.25.

(12) Khalil MAK, RA Rasmussen, MX Wang and L Ren. Methane emission from rice fields in China. Environment Science Technology. 1991 May; 25: 979-981.

(13) Irawan A dan T June. Hubungan iklim mikro dan bahan organik tanah dengan emisi CO2 dari pembukaan tanah di hutan alam Babahaleka Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Jurnal Agricultural Meterologi. 2011 Mei; 25(1): 1-8.

(14) Salampak, Sustiyah, dan V Amelia. Fluks gas karbondioksida pada tanah gambut pedalaman di Kalampangan, Kalimantan Tengah. Jurnal Agri Peat. 2014 Maret; 15(1): 24-33.

(15) Maswar, O Haridjaja, S Sabiham, dan MV Noordwijk. Cadangan, kehilangan, dan akumulasi karbon pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut tropika. Journal of Soil and Land Utilization Management. 2011; 8(1): 1-10.

(16) Rumbang N, B Radjagukguk dan D Prajitno. Emisi carbon dioksida (CO2) dari beberapa tipe penggunaan lahan gambut di Kalimantan. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 2009; 9(2): 95-102.

(17) Nusantara RW, Sudarmadji, TS Djohan dan E Haryono. Emisi CO2 tanah akibat alih fungsi lahan hutan rawa gambut di Kalimantan Barat. Jurnal Manusia dan Lingkungan. 2014 November; 21(3): 268-276.

(18) Kechavarzi C, Q Dawson, PB Leeds-Harrison, J SzatyLowicz, and T. Gnatowski. Water-table management in lowland UK peat soils and its potential impact on CO2 emission. Soil Use Management. 2007 September; 23: 359-367.

(19) Pelczar MJ and ECS Chan. Elements of Microbiology. Alih bahasa : Hadioetomo, dkk. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia; 2005.

(20) Setyanto P. Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian. Balingtan. Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Sinar Tani 23-29 April 2008.

(21) Hardjowigeno HS. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo: Jakarta; 2002.




DOI: https://doi.org/10.20886/jklh.2016.10.2.49-57

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Ecolab

This Journal Index by:

  



Copyright © Ecolab
e-ISSN: 2502-8812, p-ISSN: 1978-5860
Ecolab is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License