PENGUPASAN DAN PEMOLISAN ROTAN DALAM KEADAAN BASAH DAN KERING

Efrida Basri, Osly Rachman, Achmad Supriadi

Abstract


Pengupasan  dan pemolisan   rotan  berdiameter  besar selama  ini dilakukan  pada  keadaan kering. Yang menjadi permasalahan  di sini adalah  untuk mencapai  keadaan  kering,  waktu pengeringan  yang  diperlukan  sangat  lama yakni  bisa satu bulan atau lebih untuk mencapai  kadar air ±  16%. Keadaan yang  demikian  tentu tidak menguntungkan   karena selain menghambat  proses produksi, juga keawetan rotan  menjadi  turun.

Penelitian  ini dilakukan  dengan  tujuan memperoleh  beberapa faktor   konversi  dalam pengupasan dan pemolisan yang   dilakukan  pada  rotan  dalam  keadaan  basah  dan  kering.  Sasarannya   adalah untuk  mengetahui   apakah  pengupasan  dan  pemolisan  rotan  pada  keadaan   kering  dapat  diganti dengan pada keadaan  basah.

Bahan yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  tiga jenis  rolan  berdiameter   besar,  yaitu manau (Calamus manan Miq.),  seuti (Calamus  ornatus BL.), dan nunggal  (Calamus ornatus BL.) yang masing-masing  dikupas  dan dipolis  dalam keadaan  basah  (KA. 70-80%) dan kering  (KA.  15 - 18%). Faktor yang  diamati  pada  saat pengupasan  dan pemolisan  adalah pengurangan   diameter,  rendemen, cacat  serat  berbulu  dan serat patah,  cacat warna, dan produktivitasnya.

Pengupasan   dan  pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah  menghasilkan  rendemen  lebih  rendah  serta  cacat  serat   berbulu  dan  serat  patah  lebih  tinggi, namun  pengurangan  diameter    dan produktivitas   sama dengan  rotan yang  dikupas  dan dipolis dalam keadaan kering.

Mengacu  kepada  klasifikasi  pemesinan,   pengupasan   dan pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah menghasilkan   rotan  dengan  mutu  baik  untuk jenis  manau  dan nunggal,  dan mutu  sedang  untuk jenis seuti.  Sedangkan,   apabila  ketiga  jenis  rotan  tersebut  dikupas   dan  dipolis  dalam   keadaan  kering mutunya  menjadi  sangat  baik.

Mengingat  alat pengupasan  dan pemolisan rotan yang  ada sekarang  hanya  untuk  rotan  kering, maka untuk meningkatkan   mutu  rotan kupas dan polis  basah perlu merekayasa  kedua  alat tersebut.


Keywords


rotan; kupas; polis; rendemen; produktivitas; mutu

References


Anonimus. 1976. Standard methods of conducting machining tests of wood and

wood-based materials : ASTM D 1666-64. Annual Book of ASTM Standards, Part 22 : Wood ; Adhesives. American Society for Testing and Materials, Philadelphia.

Basri, E dan Suparman K. 1987. Perlakuan pengeringan rotan manau (Calamus manan) dan

rotan semambu (Calamus scipionum). Jurnal Penelitian Hasil Rutan, Vol.4. no.1 , Bogor.

----------------. Pengaruh penggorengan dan cara pengeringan terhadap sifat rotan belukbuk

(Calamus burckianus) dan rotan seuti (Calamus ornatus).

Jurnal Penelitian Rasil Rutan, Vol. 4.no. 1, Bogor.

Casin, R.F. 1975. Study on the proper utilization of rattan poles. Progress report,

Project no.13. PCAR. Los Baiios.

Nasendi, B.D. 1994. Socio-economic information on Rattan in Indonesia.

INBAR Working Paper No. 2, Bogor.

Raclunan, O. 1996. Peranan sifat anatomi, kimia dan fisik terhadap mutu rekayasa rotan.

Thesis untuk Program Pasca Sarjana (S3) pada Institut Pertanian Bogor.




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.1998.15.8.475-487

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN INDEXED BY:

More...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.