KAJIAN USULAN ZONA KHUSUS TAMAN NASIONAL KUTAI

Reny Sawitri, Yelin Adalina

Sari


ABSTRACT

The construction of the arterial road of Bontang-Sangatta in Kutai National Park triggering tenurial and wildlife conflicts due to communities occupation. Therefore, it should be managed into a special use zone. The objective of the study was to evaluate special use zone proposal, associated with the typology of ethnic communities, biophysical potency, as well as the communities perception. Structured questionnaires were used to interview 58 households. The proposed special use zone should urgently be defined considering of increasing communities population density of about 22% per year, and land encroachment of about ≥ 2 ha in Teluk Pandan and South Sangatta Sub-District. Land management lead to decreasing soil fertility. Rubber estate, however, enlarged orangutan home range. Communities perception revealed that 45% of the community wish that the area status is an enclave. It was indicated that most of the people wanted to stay in the area. The study identified 18.831 ha as a suitable area for a special use zone. The proposed zone should be arranged into three zones i.e., cultivation zone (250 m), interaction zone (251-750 m) and green belt zone (>751 m) from either side of the arterial Bontang-Sangatta road. The farmer and fishermen communities should also be advocated.

Key words : Kutai National Park, special use zone, perception and management

ABSTRAK

Pembangunan jalan poros Bontang-Sangatta di Taman Nasional Kutai memicu terjadinya konflik tenurial maupun konflik satwa, karena okupasi masyarakat. Kondisi ini mengarahkan pengelolaan kawasan ini menjadi zona khusus, untuk itu tujuan penelitian ini mengevaluasi usulan zona khusus dihubungkan dengan tipologi etnis masyarakat, potensi biofisik kawasan dan persepsi masyarakat. Metode penelitian dilakukan melalui wawancara dan kuesioner pada 58 Kepala Keluarga (KK). Usulan zona khusus ini layak ditetapkan mengingat peningkatan kepadatan penduduk sekitar 22% per tahun dan peningkatan pengusahaan lahan ≥ 2 ha pada masyarakatdi Kecamatan Teluk Pandan dan Sangatta Selatan. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan berdampak pada menurunnya kesuburan lahan. Sementara itu, keberadaan perkebunan karet memperluas daerah jelajah satwa terutama orangutan. Persepsi masyarakat terhadap status kawasan yang menghendaki enclave (45%) mengindikasikan bahwa mereka masih menginginkan menetapdi kawasan. Usulan hasil penelitian ini, pengelolaan kawasan seluas 18.831ha layak sebagai zona khusus dan penataan lahannya terbagi ke dalam zona budidaya selebar 250 m di kiri kanan jalan Bontang-Sangatta, zona interaksi selebar 251-750 m serta kawasan hijau yang berfungsi sebagai koridor > 751 m disertai pembinaan kelompok tani dan nelayan masyarakat.

Kata kunci : Persepsi dan pengelolaan, Taman Nasional Kutai, zona khusus


Kata Kunci


Taman Nasional Kutai; zona khusus; persepsi dan pengelolaan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ancrenaz, M. 2013. Orang-utans and agro-industrial plantations, perspective from Sabah. Workshop: Orangutan Conservation and Reforestation. 11-13 Juni 2013. Hotel Royal Victoria, Sangatta, Kaltim.

Archive. 2007. Haluan baru. http://jejak kelana. Wordpress.com/2007/08/…. Diakses tanggal 19 Mei 2014.

Arrayun, A. 2010. Taman Nasional Kutai. http://senyumanarthuria.blogspot. com/2010/07/taman-nasional-kutai.html

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Timur. 2011. Kutai Timur dalam angka. Kabupaten Kutai Timur. 277 hal.

Balai Taman Nasional Kutai. 2008. Hasil survey keberadaan populasi orangutan dan keragaman hayati lainnya di Taman Nasional Kutai, Orangutan Conservation Service Program (OCSP) dan The Nature Conservacy (TNC). 26 Hal..

Balai Taman Nasional Kutai. 2010. Rencana pengelolaan Taman Nasional Kutai 2010-2029. Balai TN Kutai, Bontang, Kalimantan Timur.

Balai Taman Nasional Kutai. 2012. Guide to Kutai National Park, East Kalimantan-Indonesia. Kementerian Kehutanan, Direktorat Jenderal PHKA, Balai Taman Nasional Kutai.

Balai Taman Nasional Kutai. 2013a. Titipan masa lalu, warisan masa depan. Lokakarya International ”Orangutan Conservation and Reforestation”. Sangattta, Juni 11-13, 2013.

Balai Taman Nasional Kutai. 2013b. Zonasi Taman Nasional Kutai. Balai TN Kutai, Bontang, Kalimantan Timur.

Bina Kelola Lingkungan. 2007. Policybriefs: TN Kutai diantara dua kepentingan. http://bikal.info/.../68-policybrief-tn-kuta.html. Diakses tanggal 15 Mei 2014.

Departemen Kehutanan. 2008. Taman Nasional Kutai. http:// www.dephut.go.id/informasi/TN%20INDO-ENGLISH/tnkutai.htm. Diakses 23 Oktober 2012.

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kabupaten Kutai Timur. 2013. Penduduk Kutai Timur. http://www.antarakaltim.com/.../penduduk-kutai timur- capai-529775-jiwa.

Falah, F. 2012. Kajian efektifitas pengelelokaan kolaboratif Taman Nasional Kutai. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10 (1): 37-57.

Garsetiasih, R. 2012. Manajemen konflik konservasi banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) dengan masyarakat di Taman Nasioanal Meru Betiri dan Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Goosens, B. L. Chikhi. M. ancrenas, I. Lackman-Ancrenaz, P. Andar, M.W Buford. 2006. Genetic signature of anthropogenic population collapse in orang-utans. PloS. Biol 4(2):e25.

Gunawan W., dan S. Jinarto. 2007. Valuasi ekonomi manfaatan kawasan Taman Nasional Kutai (Studi kasus di Seksi Konservasi Wilayah II Sangatta). Laporan Kegiatan Pelatihan Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Angkatan II Blok II.64 hal.

Kompas com. 2013. Penjarahan kayu ulin masih ada di Tn Kutai. Rabu 12 juni 2013. http://nasional.kompas com/ read/2013/06/12/03273589/contact.html.

Kosmaryandi, N, S. Basuni, L.B. Prasetyo dan S. Adiwibowo. 2012. Gagasan baru zonasi taman nasional: Sintesis Kepentingan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Kehidupan Masyarakat Adat. JMHT Vol XVIII (2):69-77.

Kurniawan, H. 2010. Kemiskinan di dalam dan sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat di Kabupaten Pesisir Selatan (Perilaku dan strategi bertahan hidup). http://www.repository.unand.ac.id/....hasim_kurniawan _052005…Pasca Sarjana Universitas Andalas.

Lidlaw, R.K. 1998. A comparison between population of primates, squirrels, three shrew and other mammals inhabiting virgin logged, fragmented and plantation forest in Malaysia. Inc Conservation, Management and Development of Forest Resources. Proceding of the Malaysia-UK Programme Workshop 21-24 October 1996. Forest Reseach Institute, Malaysia.

Maleong, L.J. 2011. Metodologi penelitian kuantitatif (edisi revisi). Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Maryati, T. 2011. Preferensi masyarakat terhadap pemilihan jenis pohon dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat: Studi kasus di Desa Paramasan Bawah, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Jurnal Hutan Tropis, Vol 12 (31): 123-131. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Mulyono, M., A Mulyana, P. Munnigh, Y. Indriatmoko, G. Limbang, N.A Utomo, R. Iwan, Saparuddin dan Hamzah. 2010. Kebijakan pengelolaan zona khusus, dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang taman nasional di Indonesia. Brief No 1, April 2010, Center For International Forestry Research. http://www.cifor.cgiar.org.

McDougall, C.L. 2001. Gender and diversity in assessing sustainable forest management and human well being. In C.J.P. Colfer and Y.Byron (eds). People Managing Forest: the Link between Human Well-being and Sustainability. CIFOR. Bogor. Hal 60-71.

Nurmegawati, Afrizon dan D. Sugandi. 2014. Kajian kesuburan tanah perkebunan karet rakyat di Provinsi Bengkulu. Jurnal Littri 20(1): 17-26. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. 2009. Desain Restorasi Ekosistem lahan bekas tambang batubara PT Kaltim Prima Coal, Kalimantan Timur. Laporan Draft2. Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam dengan PT Kaltim Prima Coal. Hal 125-130.

Sawitri, R., S. Suharti dan E. Karlina. 2011. Interaksi masyarakat dengan hutan dan lingkungan sekitarnya di kawasan dan daerah penyangga Taman Nasional Kutai. Jurnal Penelitian dan Konservasi Alam, Vol. 8(2): 129-142.

Sawitri, R. Dan E. Karlina. 2013. Evaluasi zonasi taman nasional: Studi kasus Taman Nasional Kutai. Laporan Hasil Penelitian, Pusat Konservasi dan Rehabilitasi, Bogor. 42 hal.

Sirait, J. 2014. Kearifan lokal Serampas dan wacana enclave TN Kerinci Seblat. Jambi. http://www.mongabay.co.id/2014/03/10/ kisah-kearifan-lokal-serampas-dan wacana-enclave-tn-kerinci-seblat. Diakses 21 Juli 2014.

Stavenson, F.J. 1982. Human chemistry:Genesis, composition, reaction. John Willey and Sons. Inc. New York. 399 p.

Subarudi. 2001. Upaya penyelamatan Taman Nasional Kutai. Info Sosial Ekonomi, Vol 2 (2001):29-35.

Supriyadi. 2008. Kandungan bahan organik sebagai dasar pengelolaan tanah kering Madura. Embryo Vol 5(2):176-189. http://pertanian.trunojoyo.ac.id/wp content/uploads/2012/03/6-kandungan-slamet.pdf. Diakses 22 januari 2015.

Syekhfani. 1997. Strategi penanggulangan masalah kesuburan tanah dalam rangka management produksi tanaman pertanian. Pidato Pengukuhan Guru Besar, Universitas Brawijaya.http://syekhfanis md.lecture.ub.ac.id/filis/2013/10/naskap-pidato-lengkap.pdf.

Tangkesik, A., NM Wikarniti, NN Soniari dan IW Narka. 2012. Kadar bahan organik tanah pada tanah sawah dan tegalan di Bali serta hubungannya dengan tekstur tanah. AGROTROP 2(2): 101-107.

TNKLestari. 2009. Buaya muara; Keganasan predator kutai. http://tnklestari.wordpress.com/tag/tn-kutai/ Diakses 22 Januari 2015

TribunNews. 2012. http://www.tribunnews.com/2012/09/27/persetujuan-enclave-taman-nasional-kutai-tergantung-dpr-ri . Diakses 5 Januari 2013

Universitas Sumatera Utara. 2008. Penentuan batas kritis dan dosis pemupukan Kalium pada tanah Inceptisol. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/280115/5/chapter%20.pdf.

Uluk A, M Sudana dan E. Wollenberg. 2001. Ketergantungan masyarakat Dayak terhadap hutan di sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. Bogor: Center for International Forestry Research (CIFOR). 150 Hal.

Yuwono, I.H., P. Susanto, C. Saleh, N Andayani, D. Prasetyo, S.C.U. Atmoko. 2007. Guidelines for better management practices on avidence, mitigation and management of human-orangutan conflict in and around oil palm plantations. Direktorat Perlindungan Hutan dan pelestarian Alam. Departemen Kehutanan.

Wibowo, A. 2008. Hutan dan jiwa Dayak. http://staff.blog.ui.ac.id/ arif51/2008/09/02/hutan-dayak-dan- jiwa-dayak. Diakses tanggal 20 Mei 2014.




DOI: https://doi.org/10.20886/jphka.2016.13.2.85-100

##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by-nc4.footer##

JURNAL PENELITIAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM INDEXED BY:

 

Copyright of Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam (ISSN:0216-0439) dan Online ISSN : 2540-9689

    Creative Commons License