Potensi Pengembangan Cempedak (Artocarpus integer Merr.) pada Hutan Tanaman Rakyat Ditinjau dari Sifat Kayu dan Kegunaannya

Mody Lempang, Suhartati Suhartati

Abstract


Pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan salah satu  kebijakan  Kementerian Kehutanan untuk mengelola hutan agar memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Oleh karena itu, beberapa jenis tanaman yang bersifat serbaguna perlu dipertimbangkan untuk pengembangan HTR. Salah satu jenis pohon serba guna (JPSG) yang berpotensi adalah cempedak (Artocarpus integer Merr.). Di alam liar, cempedak  ditemukan  tumbuh pada hutan primer dan sekunder, pada tanah darat atau tanah  rawa. Tumbuh pada  ketinggian  1-700 m dpl, di daerah bercurah hujan tinggi (2.500-3.000 mm/tahun) atau tipe iklim A-B. Regenerasi cempedak dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif, akan tetapi pada umumnya masih dilakukan secara generatif (menggunakan  biji) karena perbanyakan secara vegetatif (dengan cara sambungan, cangkok dan okulasi) persentase tumbuhnya rendah. Kayu cempedak berwarna kuning, tekstur agak halus, berat jenis tinggi, penyusutan sedang, tergolong kayu kelas kuat II dan kelas awet II, sifat pengerjaan agak mudah sampai sulit, dan hasil pengerjaan pada umumnya baik. Kayu cempedak dapat   digunakan sebagai bahan bangunan rumah, perahu dan bangunan di laut, mebel, kerajinan, dan bahan baku industri.  Buah cempedak bermanfaat sebagai bahan pangan. Buah muda untuk sayur, sedangkan buah matang dapat dimakan segar atau diolah. Pemasaran buah masih bersifat lokal dan volume pemasaran kayu masih rendah.

Keywords


HTR; cempedak; budidaya; sifat kayu; kegunaan

Full Text:

PDF

References


BPPT. 2013. Sentra informasi teknik. Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi www.Balai IPTEK net BPPT diunggah tanggal 19 Pebruari 2013

Dumanauw, J. F. 1982. Mengenal kayu. Jakarta: PT. Gramedia.

Fengel, D. dan G. Wegener. 1995. Kayu : kimia, ultrastruktur, reaksi-reaksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid II. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Kementerian Kehutanan, 2010. Eksklusif Data Strategis Kehutanan: Pemegang Izin Hutan Tanaman Rakyat Tumbuh Pesat www. beritasatu.com diunggah tanggal 26 Maret 2012

Lemmens, R.H.M.J., I Soerianegara and W.C. Wong (eds.). 1995. Plant Resources of South- East Asia 5(2) Timber trees: Minor commercial timbers. Bogor Indonesia: Prosea.

Lempang, M. Mangopang, A.D., Palalunan dan Hajar, 2012. Sifat dasar dan kegunaan kayu Sulawesi. (Laporan penelitian) Balai Penelitian Kehutanan Makassar (Tidak diterbitkan).

Oey, D.S. 1990. Berat jenis dari jenis-jenis kayu Indonesia dan pengertian bertanya kayu untuk keperluan praktek. Pengumuman No. 13. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan.

Prawira, R.S.A. dan I.G.M. Tantra, 1972. Daftar Nama Pohon-Pohonan Sulawesi Selatan, Tenggara dan Sekitarnya. Bogor: Lembaga Penelitian Hutan.

Schmidt, F.H. and J.H.A Ferguson, 1951. Rainfall types based on wet and dry period ratio for Indonesia with Western New Guinea. Verhandeligen No.42. Jakarta: Direktorat Meteorology and Geofisika.

Suyitno, E. 2012 Budidaya Cempedak www. edysuyitno10,blogspot.com diunduh tanggal 2 Maret 2013

Verheij, E.W.M dan R.E. Coronel. 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2013 Buletin Eboni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed by: