Kawasan Wallacea dan Implikasinya bagi Penelitian Integratif Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Achmad Rizal H. Bisjoe

Abstract


Para pakar mendefinisikan kawasan Wallacea sebagai wilayah nusantara yang dipisahkan oleh dua daratan luas, yaitu Paparan Sunda di bagian barat dan Paparan Sahul di bagian timur. Kondisi tersebut memberikan kekhasan pada kawasan Wallacea yang secara imajiner dibatasi oleh garis-garis Wallace dan Lydekker. Kekhasan wilayah dapat dijadikan salah satu pertimbangan dasar tentang perlunya penelitian khusus berbasis wilayah, termasuk bidang kehutanan. Kebutuhan penelitian kehutanan di kawasan Wallacea saat ini dilayani oleh empat institusi penelitian kehutanan, yaitu Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Balai Penelitian Kehutanan Manado, dan Balai Penelitian Kehutanan Kupang yang bersifat balai umum dan Balai Penelitian HHBK Mataram yang bersifat balai khusus. Namun, institusi tersebut memiliki keterbatasan sesuai dengan tupoksi dalam melayani kebutuhan data dan informasi tentang kawasan Wallacea. Kebutuhan tersebut pada umumnya dijawab melalui kegiatan ekspedisi tim gabungan, seperti ekspedisi Wallacea tahun 2004 yang berfokus pada kehidupan laut. Tulisan ringan ini sekedar menggagas peluang penelitian integratif kehutanan yang dapat melengkapi informasi tentang Wallacea.


Keywords


Wallacea; kekhasan wilayah; penelitian integratif; kehutanan

Full Text:

PDF

References


Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 2009. Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010 - 2025. Jakarta.

Bisjoe, ARH., Dewi, I.N., Hayati, N. 2014. Etnoekologi Masyarakat Sekitar Taman Nasional Taka Bonerate dalam Pemanfaatan Kima Lubang (Tridacna crocea) dan Ikan Malaja (Siganus canaliculatus). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 3 No. 2, Juni 2014: 139 - 149. Balai Penelitian Kehutanan Makassar.

http://id.wikipedia.org/wiki/Wallacea. Wallacea. Diunduh pada 16 September 2014.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/dua-warisan-dari-nusantara-untuk- dunia. Dua Warisan dari Nusantara untuk Dunia. Diunduh pada 16 November 2015.

http://www.cepf.net/SiteCollectionDocuments/wallacea/EcosystemProfile_Wallacea.pdf. Ecosystem Profile Wallacea Biodiversity Hotspot. Draft for Submission to the CEPF Donor Council. June 2014. Diunduh pada 16 November 2015.

http://krsmwn.blogspot.co.id/2012/11/garis-wallace-weber-dan-lydekker.html. Garis-garis Wallace, Weber, dan Lydekker. Diunduh pada 7 Desember 2015.

Kementerian Kehutanan. 2012. Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2012. Jakarta.

Michaux, B. 2010. Biogeology of Wallacea: geotectonic models, areas of endemism, and natural biogeographical units. Biological Journal of the Linnean Society Volume 101, Issue 1, pages 193–212, September 2010. Wiley Online Library.

Rahmadi, C. 2010. Wallacea: Alami atau buatan? http://www.tn-babul.org/index.php?option=com_content&view=article&id=191%3Awallacea-alami-atau-buatan&catid=49%3Aartikel&Itemid=195. Diunduh pada 16 September 2014.

Setiawan, H. dan Qiptiyah, M. 2014. Kajian Etnobotani Masyarakat Adat Suku Moronene di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 3 No.2, Juni 2014: 107 - 117. Balai Penelitian Kehutanan Makassar.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Buletin Eboni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed by: