Pemungutan Getah Pinus dengan Tiga Sistem Penyadapan

Mody Lempang

Abstract


Keberadaan tanaman pinus (Pinus merkusii) di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan mempunyai arti yang penting bagi masyarakat, karena dari tanaman ini selain menghasilkan kayu juga dapat dipungut getahnya. Bagi daerah yang berada pada ketinggian atau pegunungan, hutan pinus tidak hanya memiliki fungsi produksi (kayu dan getah) tetapi juga mempunyai fungsi lindung. Beberapa sistem penyadapan telah diuji coba untuk pemungutan getah pohon baik konvensional maupun yang modern, namun untuk pemungutan getah pinus hanya ada tiga sistem penyadapan yang telah diuji coba atau sedang diterapkan, yaitu sistem koakan, kopral, dan bor. Masing-masing sistem memiliki keunggulan dan kelemahan sehingga dalam penentuan sistem mana yang akan dipilih dan digunakan, perlu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomis, dan kelestarian. Hasil getah pinus pada tiga sistem penyadapan dapat ditingkatkan dengan menggunakan stimulan H2SO4 15%. Penyadapan getah pada kawasan hutan lindung paling sesuai jika menerapkan sistem kopral yang tidak menyebabkan kerusakan batang pohon, sehingga kelestarian hutan pinus dapat dipertahankan. Pada penyadapan yang dilakukan di dalam kawasan hutan produksi atau pada pohon pinus yang akan disadap mati,  hasil getah dapat dimaksimalkan dengan menerapkan sistem kopral, bor, dan koakan secara bergantian dalam tiga rotasi penyadapan.

Keywords


Sistem penyadapan; getah; pinus

Full Text:

PDF

References


Alrasjid, H., Natawiria, D. & Ginting, A.N. (1983). Pembinaan hutan pinus khususnya Pinus merkusii untuk penghara industri. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Aritonang, W. (2013). Peluang Usaha Getah Pinus dalam Pasar Domestik dan Internasional. Diakses dari http://hutanb2011.blogspot.co.id/2013/06/peluang-usaha-getah-pinus-dalam-pasar.html. pada tanggal 23 Agustus 2016.

Bina. (2012). Perhutani Menuju Era Getah Bersih. Jakarta: Media Berita Kehutanan dan Lingkungan, Ed. 8 Oktober 2012, Thn. XXXIX, Hal.23.

Bina. (2014). PPCL Ekspor Perdana Produk Alphapinene ke India. Jakarta: Media Berita Kehutanan dan Lingkungan, Ed. 3 Mei 2014, Thn. XLI, Hal.1.

Idris, M.M. & Soenarno. (1983). Aspek teknis eksploitasi hutan pinus di Pulau Jawa. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Kasmudjo. (1992). Usaha Stimulan pada Penyadapan Getah Pinus. Jakarta: Duta Rimba No. 149/XVII.

Kasmudjo. (2010). Teknologi Hasil Hutan. Yogyakarta: Cakrawala Media.

Lempang, M. & Sumardjito, Z. (1995). Perbandingan produksi getah beberapa kelas umur tegakan pinus (Pinus merkusii) yang disadap dengan menggunakan perangsang H2SO4. Jurnal Penelitian Kehutanan IX (1): 1-6.

Lempang. (2017). Studi penyadapan getah pinus cara bor dengan stimulan H2SO4. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 35(3): 221-230.

[LIPI] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (2004). Lembar Data Keselamatan Bahan. Diakses dari http://www.kimianet.lipi.go.id. pada tanggal 31 Maret 2016.

Mangundikoro, A. (1983). Strategi dan pola pengembangan hutan pinus. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Purnamawati, D. & Sumadiwangsa, S. (1983). Prosfek isolasi alfa dan betha pinena dari minyak terpentin sebagai bahan baku industri parfum. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Rochidajat & Sukawi. (1979). Pengaruh Kekerasan Penjarangan (S %) Pada Produksi Getah Pinus merkusii Pada Petak-Petak Coba di Kalibagung KPH Pekalongan. Laporan No.322 Lembaga Penelitian Hutan, Bogor.

Rodrigues, K.C.S., Azevedo, K.C.N., Sobreiro, L.E., Pelissari, P., & Pett-Neto, A.G. (2008). Oleoresin yield of Pinus elliotti plantation in subtropical climate: Efect of tree diameter, wound shape and concentration of activeadjuvants in resin stimulating paste. Journal Crops and Product, 27: 322-327.

Sastrapraja, T., Sumadiwangsa, S. & Nayasaputra, S. (1980). Pengendalian Pengawasan Kualitas Gondorukem danTerpentin. Laporan No.9 Lembaga Penelitian Hutan Bogor.

Satil, F., Selvi, S. & Polat, R. (2011). Ethnic uses of pine resin production from Pinus brutia by native people on the Kazdag Mountain (Mt. Ida) in Western Turkey. Journal of Food, Agriculture & Environment 9(4),1059-1063.

Satjapradja, O. (1983). Evaluasi lahan tegakan Pinus merkusii. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983, Jakarta). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Sharma, K.R & Lecha, C. (2013). Tapping of Pinus ruxburghii (Chir Pine) for oleoresin in Himachal Pradesh, India. Advances in Forestry Letters (AFL) 2(3),53-57.

Silitonga, T. (1983). Pemungutan dan pemanfaatan hutan pinus: Suatu tantangan dan kesempatan. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Soenardi, S.D. (1983). Permasalahan kayu pinus dan hasil ikutannya. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Soenarno, Basuki, S. & Lempang, M. (1997). Penyadapan getah pinus dan manfaat sosial ekonominya. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian (Ujung Pandang, 16 Desember 1996). Balai Penelitian Kehutanan Ujung Pandang.

Soenarno, Lempang, M. & Aksar, M. 2000. Intensitas pembaharuan luka sadap dan penggunaan jenis stimulan serta dampaknya terhadap jangka waktu sadap dan produktivitas getah pinus. Buletin Penelitian Kehutanan 6 (2) :1-15.

Suharlan, A., Harbagung & Riyadi, D.M.M. (1980). Hubungan Antara Produksi Getah Pinus merkusii Dengan Luas Bidang Dasar, Tinggi Pohon dan Jarak Tumbuh Relatif Antar Pohon. Laporan No. 349 Lembaga Penelitian Hutan, Bogor.

Sukadaryati. (2014). Pemanenan getah pinus menggunakan tiga cara penyadapan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 32 (1): 62-70.

Sukadaryati & Dulsalam. (2015). Penggunaan stimulan cuka kayu dalam penyadapan pinus. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Teknologi dan Inovasi Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan dalam Menunjang Industri Pengolahan Hasil Hutan (Bogor, 26 November 2014). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Sukarno, A., Hardianto, E.B., Marsoem, S.N. & Na’iem, M. (2015). Oleoresin production, turpentine yield and components of Pinus merkusii from various Indonesia provenances. Journal of Tropical Forest Science 27(1),136-141.

Sumadiwangsa, S. (1983). Beberapa kemungkinan peningkatan kualitas hasil penyulingan getah pinus. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Sutjipto. (1975). Penyadapan pinus dengan stimulan asam sulfat. Jakarta: Duta Rimba No.5, hal.12-15.

Tantra, I.G.M. (1983). Pelestarian plasma nutfah serta taksonomi Pinus merkusii Jungh. et de Vriese. Proceeding Simposium Pengusahaan Hutan Pinus (Jakarta, 23-28 Juli 1983). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Tiwari, Setyendra, P., Kumar, P., Yadav, D. & Chuhan DK. (2012). Comparative morphological epidermal and anatomical studies of Pinus roxburlgii needles at different altitudes in the North-West Indian Hymalayas. Turkish Journal of Botany, 37: 65-73.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Buletin Eboni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed by: