Pentingnya Wanamina sebagai Alternatif untuk Memelihara Tambak di Daerah Pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan

Rini Purwanti

Abstract


Kabupaten Takalar memiliki daerah pesisir sebesar 42,52% dari total wilayah, dengan panjang pantai sekitar 74 km dan luas tambak 5.078,6 ha.  Sebagian besar tambak berada dekat dengan pesisir pantai dan mengalami rusak parah akibat terkena hantaman ombak.  Akibat kerusakan ini, nelayan bukan hanya gagal panen, namun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memperbaiki tanggul yang rusak. Salah satu alternatif untuk mengurangi terjadinya kerusakan tanggul tambak adalah dengan sistem wanamina.  Wanamina merupakan model pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang dapat meningkatkan produktifitas hasil tambak. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui model wanamina yang telah diterapkan oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Takalar. Wanamina telah dikembangkan oleh masyarakat di Kabupaten Takalar terutama pemilik tambak di daerah pesisir dengan model penanaman di pematang tambak terluar yang berbatasan langsung dengan pantai, di sekitar pematang tambak dan di tengah tambak.  Dengan adanya tanaman mangrove yang menjadi pembatas antara laut dan tambak masyarakat, mampu mengurangi terjadinya kerusakan tambak akibat abrasi pantai.  Jenis tanaman mangrove yang ditanam adalah Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa.  Kegiatan sosialisasi dan penelitian tentang manfaat wanamina bagi masyarakat di pesisir kabupaten Takalar belum banyak dilakukan, oleh sebab itu sangat dibutuhkan adanya kegiatan tersebut untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat yang belum menerapkan wanamina ini. 


Keywords


Wanamina; tambak; mangrove; Kabupaten Takalar

Full Text:

PDF

References


Ahmed, W., S.S. Shaukat, 2012, Effect of Heavy Metal Pollution on Leaf Litter Decomposition of Two Species of Mangroves, Avicennia marina and Rhizophora mucronata, Journal of Basic and Applied Sciences 8: 696 – 701.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar, 2013. Kabupaten Takalar dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar.

Bengen, D.G., 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Sinopsis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Jakarta.

Budiastuti, R., 2013. Pengaruh Penerapan Wanamina Terhadap Kualitas Lingkungan Tambak dan Pertumbuhan Udang di Kota Semarang. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. ISBN 978-602-17001-1-2

Bush, S.R., P.A.M. van Zwieten, L. Visser, H. Van Dijk, R. Bosma, W.F. De Boer, M. Verdegem, 2010. Scenarios for Resilient Shrimp Aquaculture in Tropical Coastal Areas, Ecology and Society 15(2): 1-17. [online] URL: http://www.ecologyandsociety.org/vol15/iss2/art15/

Eldani, A. and J.H. Primavera. 1981. Effect of different stocking combination of growth, production and survival rate of milkfish (Chanos chanos Forskal) and prawn (Penaeus monodon Fabricius) in polyculture in brackishwater ponds. Aquaculture. 23: 59—72.

Fitzgerald, W. J., 2002, Silvofisheries: Integrated Mangrove Forest Aquaculture Systems, in B.A. Costa-Pierce (editor), Ecological Aquaculture: The Evolution of a Blue Revolution. Blackwell Science Ltd, Oxford, UK.

Harahab, N., 2010. Penilaian Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove dan Aplikasinya dalam Perencanaan Wilayah Pesisir. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2013. Budidaya Wanamina, Budidaya Berdasarkan Prinsip Keseimbangan. http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=839.

Maie, N., O. Pisani, R. Jaffe, 2008, Mangrove Tannins in Aquatic Ecosystems: Their Fate and Possible Influence on Dissolved Organic Carbon and Nitrogen Cycling, Limnol. Oceanogr. 53(1): 160 – 171.

Manson, F.J., Loneragan, N.R., Skilleter, G.A., Phinn, S.R., 2005. An Evaluation of the Evidence for Linkages Between Mangroves and Fisheries: A Synthesis of the Literature and Identification of Research Directions, Oceanography and Marine Biology: an Annual Review 43: 485 – 515.

Marpaung, A.A.F., Inayah.,Y Marzuki, U., 2014. Keanekaragaman Makrozoobenthos di Ekosistem Mangrove Silvofishery dan Mangrove Alami di Kawasan Ekowisata Pantai Boe, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Jurnal Bonorowo Wetlands, 4(1):1-11.

Muharram, 2014. Penanaman Mangrove Sebagai Salah Satu Upaya Rehabilitasi Lahan dan Lingkungan di Kawasan Pesisir Pantai Utara Kabupaten Karawang. Jurnal Ilmiah Solusi, 1(1): 1-14.

Murachman, Hanani, N., Soemarno dan Muhammad, S., 2010. Model Polikultur Udang Windu (Penaeus monodon Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria Sp.) Secara Tradisional. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari, 1 (1): 1-10.

Mustafa, A., Ratnawati, E., dan Sapo,I., 2010. Penentuan Faktor

Pengelolaan Tambak yang Mempengaruhi Produktivitas Tambak

Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2(2): 117 – 133.

Mardiyati, S, 2004. Optimasi Usahatani Tumpangsari Empang Parit di Lahan Konservasi Hutan Mangrove RPH Cikiperan BKPH Rawa Timur KPH Banyumas Barat, Tesis, Program Pasca Sarjana, UGM, Yogyakarta.

Poedjirahajoe, E., 2000. Pengaruh Pola Sylvofishery terhadap Pertambahan Berat Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) di Kawasan Mangrove Pantai Utara Kabupaten Brebes. Jurnal Konservasi Kehutanan, 2: 109-124.

Pramudji, 2002. Kajian Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur. Laporan Penelitian Pusat Penelitian Oseanogafi LIPI, Jakarta.

Pramudji, 2004. Mangrove di Pesisir Delta Mahakam Kalimantan Timur. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta.

Primavera, J. H., dan Esteban, J. M. A. 2008. A Review of Mangrove Rehabilitation in the Philippines: Successes, Failures and Future Prospects, Wetlands Ecology and Management 16: 345 – 358.

Primavera, J. H., 2000. Integrated Mangrove-Aquaculture Systems in Asia, Integrated Coastal Zone Management Autumn: 121 – 128.

Santoso, P., Sunadji, Yahyah, 2010. Penerapan Teknologi Tambak Wanamina Sebagai Implementasi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Secara Lestari di Desa Oebelo, Perancangan dan Kaji Tindak 16: 15 – 23.

Shilman, M.I. 2012. Kajian Penerapan Wanamina untuk Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Desa Dabong Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Tesis Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Diunduh dari repository.ipb.ac.id pada tanggal 10 Desember 2018.

Sualia, I., Eko B.P., dan I N.N. Suryadiputra. 2010. Panduan Pengelolaan Budidaya Tambak Ramah Lingkungan di Daerah Mangrove. Wetlands International Indonesia Programme.Bogor.

Supriharyono, 2009. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Syam,Z., Yunasfi, Dalimunthe, M. , 2014. Pengaruh Hutan Mangrove Terhadap Produksi Udang Windu (Penaeus monodon) Pada Tambak Wanamina di Desa Tanjung Ibus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat. Jurnal Aquacoastmarine, 2(1): 107-117.

Utojo, dan Pirzan, A.M., 2000. Polikultur Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria verrucosa) di Tambak. Jurnal Perikanan UGM (GMU J. Fish.Sci) 2 (1):19-24.

Vaiphasa, C., W. F. de Boer, A. K. Skidmore, S. Panitchart, T. Vaiphasa, N. Bamrongrugsa, P. Santitamnont, 2007, Impacts of Shrimp Pond Waste Materials on Mangrove Growth and Mortality: A Case Study from Pak Phanang, Thailand, Hydrobiologia 591:47 – 57.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Buletin Eboni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed by: