IDENTIFIKASI WILAYAH DENGAN DAMPAK KARHUTLA TERTINGGI DI PROVINSI SUMATERA SELATAN MENGGUNAKAN SATELIT LANDSAT-8 (Identification Area With The Highest Forest Fire Impact In South Sumatra By Using LANDSAT-8 Satellite)

Rezfiko Agdialta

Sari


Informasi wilayah yang terindikasi memiliki dampak terparah selama periode kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan untuk proses mitigasi dan adaptasi bencana pada kemudian hari. Proses Identikasi wilayah yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Keetch-Byram Drought Index untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten dan Kota di wilayah Sumatera Selatan. Data titik panas digunakan untuk melihat adanya indikasi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Pada penelitian ini digunakan data titik panas dari satelit NASA yaitu TERRA dan AQUA dengan menggunakan sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer). Satelit ini dapat mendeteksi perubahan suhu pada luas area 1.1 km2 dimana perubahan suhu yang terjadi dengan ekstrem dapat mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan. Satelit Landsat-8 adalah satelit yang umumnya digunakan untuk memetakan area dan luas wilayah yang hilang akibat kebakaran hutan dan lahan. Satelit Landsat-8 digunakan untuk melihat sejauh mana lahan yang semula hutan berubah menjadi lahan yang kosong dan bebatuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan wilayah di Sumatera Selatan yang memiliki dampak terparah yang diakibatkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan analisis verifikasi lahan bekas terbakar yang diperoleh dari satelit Landsat-8 sebelum dan setelah terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada wilayah yang memiliki dampak terparah yang diverifikasi berdasarkan tingkat kekeringan dengan metode Keetch-Byram Drought Index dan jumlah titik panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah dengan dampak yang paling parah selama periode tersebut adalah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Kata Kunci


Keetch-Byram Drought Index, Landsat-8, Titik Panas

Referensi


Affan, J. M. (2002). Penilaian Tingkat Bahaya Kebakaran Hutan Berdasarkan Indeks Vegetasi, NVDI dan Indeks Kekeringan, KBDI (Studi Kasus Taman Nasional Berbak, Jambi). Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Agdialta, R. (2016). Hubungan Tingkat Kekeringan Denga N Metode Keetch Byr Am Drought Index (KBDI) TerhadapJumlah Titik Api dan Analisis Konsentrasi PM10 di Kota Palembang. Skripsi Sarjana, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Tangerang Selatan.

Athoillah, I., dkk. (2017). Analisis Spasial El Nino Kuat Tahun 2015 dan La Nina Lemah Tahun 2016 (Pengaruhnya Terhadap Kelembaban, Angin, dan Curah Hujan di Indonesia). Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol.18 No.1, 33 – 41.

Deeming, J.E. (1995). Pengembangan Sistem Penilaian Bahaya Kebakaran Di Provinsi Kalimantan Timur Indonesia. (IFFM-Dephutbun/GTZ)

Halwany, W., dan Akbar, A. (2015). Kebakaran Hutan di Lahan Gambut Bencana atau Bahaya Laten?: Mengenal Jenis-Jenis Pohon Toleran terhadap Api. Bekantan, Volume 3 Nomor.2, 6 – 9. Banjarbaru: Balai Penelitian Kehutanan Banjar Baru, Kemenetrian Kehutanan.

Holben, N. B. (1986). Characteristic of Maximum-Value Composite Images from Temporal AVHRR Data. International Journal of Remote Sensing, Volume 7 - Issue 11.

Khomarudin, M. R. (2014). Pengkajian Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Multi Skala/Resolusi Untuk Kegiatan Mitigasi Bencana. Prosiding Seminar Nasional Penginderaan Jauh 2014, 301 – 308.

Widyati, E. (2011). Kajian Optimasi Pengelolaan Lahan Gambut dan Isu Perubahan Iklim. Tekno Hutan Tanaman, Volume 4 No.2, Agustus 2011, 57-68. Bogor: Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, Kementerian Kehutanan.

Sampurno, R. M., dan Thoriq, A. (2016). Klasifikasi Tutupan Lahan dengan Menggunakan Citra Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) di Kabupaten Sumedang. Jurnal Teknotan, Vol. 10, No.2, November 2016, 61-70.

Susandi., dkk. (2015). Analisis Sifat Fisika Tanah Gambut Pada Hutan Gambut di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Jurnal Agroteknologi, Vol 5, No.2, Februari 2015, 23-28. Riau: UIN Sultan Syarif Kasim.

Subiksa., dkk. (2010). Membalik Kecendrungan Degradasi Sumber Daya Lahan dan Air: Mitigasi Degradasi Lahan Gambut. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian, 113 – 139.

Solichin. (2004). Hotspot Tidak Selalu Titik Kebakaran: Mengenal Hotspot Bagian 1. Palembang: South Sumatera Forest Fire Management Project (SSFFMP) Newsletters Hotspot, Februari 2004, 1: 2-3.

Talakua, P., dkk. (2018). Analisis Indeks Vegetasi NBR dan NDVI pada Lahan / Hutan Bekas Kebakaran. Jurnal Sistem Informasi Indonesia (JSII), Volume 3 Nomor 1. AISINDO.

Vettrita, Y., dan Haryani, N. S. (2012). Validasi Hotspot MODIS Indofire di Provinsi Riau. Jurnal Ilmiah Geomatika, Vol. 18 No. 1, 17 – 28.




DOI: https://doi.org/10.20886/jpks.2021.2.1.1-10

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana