PENGARUH SIFAT FISIK DAN ANATOMI TERHADAP SIFAT PENGERINGAN ENAM JENIS KAYU

Efrida Basri, Sri Rulliaty

Sari


Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh sifat fisik dan anatorni terhadap sifat pengeringan enam jenis kayu, yaitu tisuk (Hibisms 111acropf?yllus), gading (Koilodepas sp), mahang (Macarangaf?ypoleuca), telisai (Planchoniagrandis), sibau (Bl11meodendronkurzi1), clankenari (Santiria laevigata). Sifat fisik meliputi berat jenis dan penyusutan; sedangkan sifat anatomi kayu adalah lebar jari-jari. Sedangkan sifat pengeringan yang diuji meliputi cacat pecah ujung dan permukaan serta pecah di bagian dalam kayu, menggunakan metode pengeringan suhu tinggi (100°C). Berdasarkan kelas kerusakan/cacat yang terjadi dari hasil pengeringan suhu tinggi, kemudian ditetapkan sifat pengeringan untuk masing-masing jenis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan regresi geometrik antara BJ dengan penyusutan tangensial (R' = 0,78), dan regresi linier antara lebar jari-jari dengan sifat pengeringan kayu (R' = 0,60). Kayu tisuk dan sibau termasuk kayu yang sangat mudah dikeringkan karena memiliki berat jenis rendah sampai sedang, dan diameter pembuluh yang cukup besar. Kayu mahang, gading dan telisai sangat sulit dikeringkan. Faktor penyebab, di antaranya adalah berat jenis kayu yang terlalu tinggi (gading dan telisai) dan terlalu rendah (mahang), serta struktur anatomi yang tidak mendukung yaitu dinding serat yang tebal (kayu gading), diameter pembuluh kecil (mahang dan gading), dan berisi tilosis (gading dan telisai).

Kata Kunci


Jenis kayu; sifat fisik; anatomi; sifat pengeringan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


American Standard Institution (ASI). 1994. Standard methods of testing small clear specimens of timber. In Annual Book of ASTM Standard vol. 4, sec.4. Construction. Philadelphia, USA.

Ando, Kand H. Onda. 1999. Mechanism for deformation of wood as honeycomb structure I: Effect of anatomy on the initial deformation process during radial compression. Journal Wood Science 45:120-126. The Japan Wood Research Society.

Anonim. 1994. Pedoman teknis pengeringan kayu dalam dapur pengeringan konvensional.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta. Hlm. 21.

Artistien, S. dan Y.I. Mandang. 2002. Anatomi dan kualitas serat kayu Hybiscusmacropf?yllus Roxb dan Artocarpus borridus Jarret. Buletin Penelitian Hasil Hutan 20 (3):243-257. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Basri, E., H. Roliadi and Rahmat. 1999. The effect of pre-steaming and cross-sectional end-coating on the drying properties of Indonesian Torem (Manilkara kanosiensis) wood species. Proceedings of The Fourth International Conference on The Development of Wood Science, Wood Technology and Forestry, July 14-16, 1999 in Missenden Abbey England. Pp. 206-211.

Basri, E. dan Y.I. Mandang. 2001. Pengeringan kayu: Pentingnya pernahaman sifat-sifat kayu untuk mendukung teknologi pengolahan. Prosid. Diskusi Teknologi Pemanfaatan Kayu Budidaya untuk Mendukung Industri Perkayuan yang Berkelanjutan, tanggal 7

November 2001 di Bogor. Hlm. 261-268. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor,

Basri, E. dan Rahmat. 2001. Pembuatan kilang pengeringan kayu kombinasi energi surya dan tungku. Petunjuk Teknis Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Bramhall, G. and R.W Wellwood. 1976. Kiln drying of western Canadian lumber. Canadian Forestry Service. Western Forest Products Laboratory. Vancouver. British Columbia.

Chafe, S.C. 1990. Effect of brief presteaming on shrinkage, collapse and other wood-water relationships in Euca!JptusregnansF. Muell. Wood Sci. Technology 24: 311-326 . Berlin.

Mandang, YI. dan U. Sudardji. 2000. Anatorni dan kualitas serat dua puluh jenis kayu dari kawasan Barat Indonesia. Buletin Penelitian Hasil Hutan 18 (3): 163-208. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Mandang, YI. dan U. Sudardji. 2001. Anatorni dan kualitas serat sembilan jenis kayu kurang dikenal asal Kalimantan Timur. Buletin Penelitian Hasil Hutan 19 (1):41-67. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Panshin A.J. dan C. de Zeeuw. 1969. Text Book of Wood Technology, 3rd. McGraw-Hill Book Co. pp.150-197. New York.

Pari, G. D. Setiawan dan Saepuloh. 2001. Analisis komponen kirnia dari kayu kurang dikenal dari Kalimantan Timur. Buletin Penelitian Hasil Hutan 19 (4): 201-207. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Rasmussen, E.F. 1961. Dry Kiln Operator's Manual. U.S. Department of Agriculture. Agric.

Handbook 188.

Reeb, J.E .. 2007. Drying wood. Artikel dari http://www.ca.uky.edu/agc/pubs/for/for55/for55.htm. Diakses pada tanggal 13 Februari 2007.

Sass,J.E. 1961. Botanical Microtechnique. The Iowa State University Press. Iowa, USA Senft,J.F., M.J. Quanci, dan B.A. Bendtsen. 1986. Property profile of 60-year old douglas-fir. Proceed. Of a Cooperative Technical Workshop of Juvenile Wood. Forest Product Research Society. Madison, USA. Pp. 17-28.

Siau,J.F. 1971. Flow in wood. Syracuse Univ.Press. New York. pp. 1 - 67.

Terazawa, S. 1965. An easy methods for the determination of wood drying schedule. Wood Industry 20 (5). Wood Technological Association of Japan

Wang, Z., E.T. Choong and VK. Gopu. 1994. Effect of presteming on drying stresses of red oak using a coating and bending method. Wood and Fiber Science 26 (4): 527 - 53




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2008.26.3.253-262

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN TERINDEKS DI:

Lebih banyak...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.