TEKNIK EKSTRAKSI TRADISIONAL DAN ANALISIS SIFAT-SIFAT JERNANG ASAL JAMBI

Totok K Waluyo

Sari


Jernang adalah resin yang merupakan hasil sekresi buah rotan jernang (Daemonorops draco BL.). Resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan, di mana untuk mendapatkannya diperlukan proses ekstraksi. Kegunaan jernang adalah sebagai bahan pewarna vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat dan sebagainya. Selain itu juga digunakan sebagai bahan obat-obatan seperti obat diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak kegunaan lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui teknik ekstraksi buah rotan jernang yang dilakukan oleh suku Anak Dalam dan suku Melayu Jambi mencakup rendemen dan sifat fisiko-kimia jernang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik ekstraksi jernang yang dilakukan oleh suku Anak Dalam (SAD) dan suku Melayu Jambi (SMJ) adalah ekstraksi kering dengan rendemen jernang hasil ekstraksi 7,42 + 0,99 % (SAD) dan 6,41 + 0,44% (SMJ). Sifat-sifat jernang hasil ekstraksi SMJ lebih baik dibanding SAD. Jernang SMJ mempunyai kadar air 3,2%, kadar kotoran 5,2%, kadar abu 0,7% dan titik leleh 80C, sedangkan jernang SAD menunjukkan kadar air 4,4%, kadar kotoran 16,0%, kadar abu 2,8% dan titik leleh 105°C.


Kata Kunci


Jernang; buah rotan; teknik ekstraksi tradisional; rendemen; sifat fisiko-kimia

Referensi


Anonim. 1989. Jernang. Standar Nasional Indonesia 01-1671 1989. Dewan Standardisasi Nasional. Jakarta.

.....................2006. Dragon's blood. http://www.globalherbalsupplies.com/herb_information/dragon_blood.html. Diakses tanggal 21 Maret 2007.

Coppen, J.J.W. 1995. Gum, resins, and latexes of plant origin. Non Wood Forest Products. No. 6. FAO of the United Nations. Roma. Italy.

Dransfield, J. and N. Manokaran. 1994. Plants Resource of South-East Asia. No. 6. Rattans. PROSEA. Bogor.

Elvidayanti dan D. Erwin. 2006. Berburu jernang: dari masyarakat desa sampai suku pedalaman. Gita Buana. Edisi 2 : 22-23.

Grieve, M. 2006. Dragon's blood. Website: http://www.botanical.com/botanical/mgmh/d/dragon20.html. Diakses tanggal 21 Maret 2007.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I. Badan Litbang Departemen Kehutanan, Jakarta.Januminro, C.F.M. 2000. Rotan Indonesia. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Risna, R.A. 2006. Dragon's blood (Demonorops draco BL.) tumbuhan obat yang menjanjikan dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Sarwono, J. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu. Yogyakarta. Hlm: 149-154.

Sumadiwangsa, S. 1973. Klasifikasi dan sifat beberapa hasil hutan bukan kayu. Direktorat Jenderal Kehutanan. Departemen Pertanian. Bogor. Laporan No. 28.

..................... . 2000. Usulan kerja peneliti (UKP). Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Tidak diterbitkan.

Sunanto, H. 2003. Budi Daya dan Penyulingan Kayu Putih. Kanisius. Yogyakarta. Hlm. 45-63.

Waluyo, T.K., E. S. Sumadiwangsa, P. Hastoeti dan E. Kusmiati. 2004. Sifat-sifat kopal manila dari Probolinggo, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 22 (2) : 87 - 94. Pusat Libang Hasil Hutan. Bogor.




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2008.26.1.30-40

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN TERINDEKS DI:

Lebih banyak...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.