PENGAWETAN WARNA KAYU TUSAM (Pinus merkusii) DAN PULAI (Alstonia sp.) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN DASAR DISINFEKTAN

Barly Barly, Dominicus Martono, Abdurachman Abdurachman

Abstract


Warna di antara berbagai jenis kayu sangat bervariasi, meskipun dalam jenis kayu yang samaperbedaan tersebut relatif kecil. Perbedaan warna kayu pada bagian permukaan atau inti dari suatupapan dapat menimbulkan masalah dalam perdagangan atau penampakan dari suatu produk akhir.Perubahanwarna yang tidak diharapkan sering terjadi selama proses pengeringan. Penelitian bertujuanuntuk mempelajari perubahan warna alami kayu pulai (Alstonia sp.)dan tusam (Pinus merkusii). Pencegahan perubahan warna dilakukan secara kimia dengan menggunakan bahan aktif benzilkonium klorida (A dan D), fenol (B dan C), asam kresilat (E), natrium hipoklorit (F) dan metilena-bisthiocyanate (G). Contoh uji kayu basah dilabur bahan di atas dan bersama kontrol disimpan dalam ruang AC pada RH 70 dan suhu 18 C, di ruang teras dan dalam oven pada suhu 60 dan 120 C. Hasil pengujian menunjukkan nilai kecerahan (L*) tertinggi diperoleh pada kayu pulai di bagian permukaan dan di bagian dalam balok menggunakan formulasi D, yaitu 87,3 dan 89,3 dengan nilai total variasi kecerahan ( L*) -6,7 dan -4,7. Sementara, pada kayu tusam di bagian permukaan dan di bagian dalam balok menggunakan formulasi F, yaitu 83,5 dan 80,0 dengan total variasi). Pencegahan perubahan warna dilakukan secara kimia dengan menggunakan bahan aktif benzilkonium klorida (A dan D), fenol (B dan C), asam kresilat (E), natrium hipoklorit (F) dan metilena-bisthiocyanate (G). Contoh uji kayu basah dilabur bahan di atas dan bersama kontrol disimpan dalam ruang AC pada RH 70 dan suhu 18 C, di ruang teras dan dalam oven pada suhu 60 dan 120 C. Hasil pengujian menunjukkan nilai kecerahan (L*) tertinggi diperoleh pada kayu pulai di bagian permukaan dan di bagian dalam balok menggunakan formulasi D, yaitu 87,3 dan 89,3 dengan nilai total variasi kecerahan ( L*) -6,7 dan -4,7. Sementara, pada kayu tusam di bagian permukaan dan di bagian dalam balok menggunakan formulasi F, yaitu 83,5 dan 80,0 dengan total variasi kecerahan -10,5 dan -14,0. Nilai tersebut dihasilkan pada kayu yang disimpan dalam suhu dan kelembaban rendah (AC).


Keywords


Formulasi, jenis kayu, kecerahan

References


Bauch, J. 1984. Discolouration in the wood of living and cut trees. IAWA Bulletin 5(2): 93-97.

Dubey, M. K., S. Pang & J.Walker. 2010. Color and dimensional stability of oil heat-treated Radiata Pinewood after accelerated UV

weathering. Forest Prod. J. 60(5): 453-459.

Forsyth, P.G. & Terry L. Amburgey. 1991. Microscopic characterization of nonmicrobial gray sapstain in Shouthern hardwood lumber.Wood and Fibre Science. 23(3): 376-383.

Gard, F.W., Z.Gorisek, R.Hrcka, S.Karastergiou, S. Pervan, M. Skarvelis, A. Straze & L. Travan. 2010. Discolouration of timber in

connecting with drying. COST Action E53Quality control for wood and wood products. European Drying Group.




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2012.30.2.155-162

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN INDEXED BY:

More...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.