PENGARUH KETEBALAN KAYU, KONSENTRASI LARUTAN DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP HASIL PENGAWETAN KAYU

Barly Barly, Neo Endra Lelana

Sari


Sifat keterawetan kayu dicirikan oleh jenis kayu, keadaan kayu, teknik dan bahan pengawet yang digunakan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh ketebalan kayu, konsentrasi bahan pengawet dan lama perendaman terhadap hasil pengawetan kayu yang dicapai. Kayu kering, sengon (Paraseriantheus falcataria (L.) Nielsen) dan tusam (Pinusmerkusii Jungh. et de Vries) diawetkan menggunakan campuran boraks dan asam borat dengan proses rendaman dingin dan rendaman panas. Retensi dinyatakan dalam kg/m3 asam borat (BAE) dan penetrasi dalam persen luas bidang yang ditembus. Pada perendaman dingin, retensi tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 168 jam pada konsentrasi 10%, yaitu sebesar 32,58 kg/m3, sedangkan terendah ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 24 jam pada konsentrasi 5%, yaitu sebesar 8,17 kg/m3. Sementara itu pada perendaman panas, retensi tertinggi ditunjukkan oleh tebal kayu 15 mm dengan lama perendaman 7 jam, yaitu sebesar 11,54 kg/m3 dan terendah ditunjukkan oleh tebal kayu 45 mm dengan lama perendaman 1 jam, yaitu sebesar 3,44 kg/m3.

Kata Kunci


Kayu sengon; kayu pinus; rendaman dingin; rendaman panas; boraks; asam borat

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ahn, S. H., S. C. Oh, I. G. Choi, H. Y. Kim and I. Yang. 2008. Efficacy of wood preservatives formulated from okara with copper and/or boron salts. J. Wood Sci. 54: 495-501.

Anonim. 1962. 'Timbor' Preservative. Plant Operator's Manual. Borax Consolidated Limited. Borax House, Carlisle Place, London, S.W.I.

Anonim. 1976. Glossary of Terms in Wood Preservation. American Wood Preserver's Association Standard. P.19. New York- Washington.

Anonim. 1999. Pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta. SNI 03-5010.1- 1999.

Anonim. 2003. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Direktorat Pupuk dan Pestisida. Departemen Pertanian. Jakarta.

Anonim. 2009. Wood Preservation. http://en.wikipedia.org wiki/Timber_treatment. Diakses tanggal 12 Nopember 2009.

Hunt, G.M. dan A.G. Garrat. 1986. Pengawetan Kayu. Terjemahan Mohammad Jusuf. Akademika Pressindo, Jakarta.

Iriawan, N. dan S.P. Astuti. 2006. Mengolah Data Statistik dengan Mudah Menggunakan Minitab 14. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Martawijaya, A. dan N. Supriana. 1973. Penembusan persenyawaan bor pada sepuluh jenis kayu Indonesia yang diawetkan dengan proses difusi. Pengumuman No. 1. Lembaga Penelitan Hasil Hutan, Bogor.

Martawijaya, A. dan N. Supriana. dan Barly. 1982. Resistensi kayu Indonesia terhadap impregnasi dengan bahan pengawet CCA. Pengumuman No.5. Balai Penelitian Hasil Hutan, Bogor.

Martawijaya, A. dan N. Supriana. dan Barly. 1991. Petunjuk Teknis. Pengawetan kayu bangunan perumahan dan gedung. No.01/Th 1/91. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Mampe, C. D. 2010. Effectiveness and Uses of Barate. http://www.environmentsensitive.com/effectiveusesofborate.htm. Diakses tanggal 3 Januari 2010.

Supriana, N. 1975. Pengawetan enam jenis kayu dipterocarpaceae dengan asam borat menurut metoda rendaman. Kehutanan Indonesia: 700-707.

Tamblyn, N., S.J. Colwell and N. Vickers. 1958. Preservative treatment of tropical building timbers by a dip diffusion process. Ninth British Commenwealth Forestry Conference 1968. Australia.

Yamauchi, S., Y. Sakai, Y. Watanabe, M.K. Kubo and H. Matsue. 2007. Distribution boron in wood treated with aqueous and methanolic boric acid solutions. J. Wood Sci. 53: 324- 331.




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2010.28.1.1-8

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN TERINDEKS DI:

Lebih banyak...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.