PEMANFAATAN ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA UNTUK MENGENDALIKAN CENDAWAN PENYEBAB PENYAKIT ANTRAKNOSA DAN LAYU FUSARIUM PADA KETIMUN

Imas Aisyah, Nuryati Juli, Gustan Pari

Sari


Asap cair hasil destilasi kering tempurung kelapa pada konsentrasi antara 0.25-6.0% mampu menghambat pertumbuhan koloni cendawan baik pada Colletotrichum gloeosporoides maupun Fusarium oxysporum.  Penghambatan asap cair pada koloni Colletotrichum gloeosporoides dan Fusarium oxysporum masing-masing sebesar 5.59-97.85% dan  6.06-94.97%.  Penghambatan sampai 100% untuk kedua cendawan, dimulai  pada konsentrasi 7%.  Asap cair yang dihasilkan dari pemanasan  400oC menunjukkan hambatan koloni cendawan paling tinggi, yaitu sebesar  16.26% untuk   Colletotrichum gloeosporoides dan 15.06% untuk Fusarium oxysporum.  Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa asap cair  dengan konsentrasi  0.5%, 1% dan 5%, efektif menghambat perkembangan penyakit antraknosa dan layu fusarium, sampai 100%.  Meskipun demikian, asap cair dengan konsentrasi 5% tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan nekrosis pada daun ketimun.


Kata Kunci


Asap cair, destilasi kering, tempurung kelapa, antifungi, fungi penyebab penyakit, ketimun

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Antal, M. J., Gronli, M. 2003. The art, science, and technology of charcoal production. Ind. Eng. Chem. Res, 42, 1619-1640

Duke, S. O. 1985. Biosynthesis of phenolic compounds, chemical higher plant. Dalam: The chemistry of allelopathy, Ed. Thomson, A.C. American Chemicals Society. Washington D.C., pp 113-131

Davidson, P.M., Branen, A.L. 1981. Antimicrobial Activity of Non- Halogenated Phenolic Compound. J.of Food Prot.44 (8) : 623-632.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi pangan 1. IPB. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 123 – 126.

Hendra, D. 1997. Hasil pyrolisis dan nilai kalor dari 8 jenis kayu di Indonesia bagian timur, Jurnal penelitian hasil hutan, 10, No 4, 122-124.

Nurhayati, N. 2000. Sifat destilat hasil destilasi kering 4 jenis kayu dan kemungkinan pemanfaatannya sebagai pestisida. Buletin penelitian hasil hutan, 17, No. 3, 160-168.

Pelczar, M. J., Chan. E. C. S. 1988. Dasar-Dasar mikrobiologi, jilid 2. Penerjemah Hadioetomo, . S., T. Imas, S. S. Tjitrosomo, S. L. Angka. UI-Press. Jakarta, 447 – 458.

Rizvi, S. J. H., Rizvi, V. 1992. .Allelopathy: basic and applied aspects. Springer.ISBN 978-0-412-39400-3.Page.1-4

Ray, B., W. E. Sandine. 1993. Acetic, Propionic, and Lactic Acid of Starter Culture Bacteria as Biopreservatives dalam Ray, B., Daeschel M (eds) : Food Biopreservatives of Microbial Origin. CRC Press. Boca Raton. Pp : 103-132.

Ray, B. 1996. Fundamental Food Microbiology. CRC Press Boca Raton. Pp :409 – 416.

Soetarno, S. 1994. Kimia pestisida nabati dan teknik pembuatan sediaan pestisida nabati. PAU Hayati ITB. Bandung, 56 – 58.

Vickery, L. M., Vickery, B. 1981. Secondary plant metabolism. The Macmillan Press Ltd. London, pp 1-307




DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2013.31.2.170-178

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN TERINDEKS DI:

Lebih banyak...


Copyright © 2015 | Jurnal Penelitian Hasil Hutan (JPHH, Journal of Forest Products Research)
eISSN : 2442-8957, pISSN : 0216-4329
JPHH is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.